Sebelum Api Menyentuh Sigogor, Para Penjaga Hutan Sudah Beraksi

Ponorogo - Api belum terlihat. Asap pun belum mengepul dari balik pepohonan. Namun di Blok Ngesep, Cagar Alam Gunung Sigogor, tanda-tanda yang patut diwaspadai mulai terbaca dari lantai hutan, seresah, rerumputan, dan semak belukar perlahan mengering.
Kondisi itulah yang membawa Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 2 Ponorogo turun menyusuri kawasan dalam patroli pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, 20 Agustus 2026. Patroli menyasar Blok Ngesep dan sekitarnya, terutama wilayah perbatasan Cagar Alam Gunung Sigogor dengan areal PT Perkebunan Kandangan.
Blok ini menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian. Selain terdapat akumulasi bahan bakar alami berupa seresah dan semak, kawasan perbatasan tersebut juga menjadi jalur aktivitas masyarakat yang mencari pakan ternak maupun menuju kebun. Pada musim kering, kombinasi vegetasi yang mengering dan aktivitas manusia dapat meningkatkan risiko munculnya api.
Petugas tak sekadar berjalan mencari asap. Mereka membaca hutan.
Kondisi vegetasi diamati, sumber air diperiksa, hingga tingkat kelembapan seresah diuji secara sederhana melalui uji remas. Hasil pengamatan menunjukkan vegetasi yang didominasi pasang, anggrung, jurang, nyampuh, dan bambu masih berada dalam kondisi relatif lembap. Sungai yang menjadi fitur alami kawasan juga masih mengalir.
Uji remas menunjukkan seresah berada pada kategori sedang hingga lembap. Patahan daun dan ranting kering masih berukuran relatif besar, indikasi bahwa kelembapan masih tersimpan. Namun kondisi ini bukan alasan untuk mengendurkan kewaspadaan. Seresah, rumput, dan semak yang mulai mengering tetap menjadi bahan bakar potensial ketika hari-hari tanpa hujan semakin panjang.
Patroli juga mempertemukan petugas dengan masyarakat yang sedang merumput dan berkebun di sekitar kawasan. Pertemuan itu menjadi ruang penting untuk menyampaikan pesan sederhana: jangan membawa api menjadi bencana.
Petugas mengingatkan agar tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama di sekitar batas kawasan konservasi. Sebab satu nyala kecil yang lepas kendali dapat menjalar melalui rerumputan dan seresah, lalu berkembang menjadi kebakaran yang jauh lebih sulit dihentikan.
Sepanjang patroli, tidak ditemukan hotspot maupun kejadian kebakaran di Cagar Alam Gunung Sigogor. Namun justru ketika api belum muncul, kerja pencegahan memiliki arti terbesar.
Patroli akan terus dilakukan pada lokasi-lokasi rawan, bersamaan dengan komunikasi dan penyadartahuan kepada masyarakat sekitar kawasan. Pencegahan karhutla bukan sekadar memadamkan api ketika membesar, melainkan mengenali risiko jauh sebelum percikan pertama muncul.
Di Sigogor, para penjaga hutan memilih datang lebih dahulu. Sebab dalam konservasi, keberhasilan terbaik dari pengendalian kebakaran adalah ketika api tak pernah sempat menjadi berita.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (2)
Tinggalkan Komentar
Mas Agus
semangat dulur dulur kabeh
Ganspram
Muantap poll



