Saat Monyet Turun dari Pohon, Tim Matawali Membaca Ulang Nepa

Sampang - Sebuah laporan masyarakat masuk melalui call center Balai Besar KSDA Jawa Timur. Isinya tentang gangguan Monyet ekor panjang (MEP) di kawasan Nepa, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Laporan itu segera membawa Tim Matawali Resor Bangkalan turun ke lapangan, 20 Agustus 2026.
Namun, apa yang ditemukan di Nepa menunjukkan cerita yang lebih panjang daripada sekadar laporan gangguan satwa.
Nepa sejak lama dikenal sebagai salah satu kantong keberadaan monyet di pesisir utara Madura. Di sekitar Waduk Nepa, tim masih menjumpai sejumlah monyet turun dari pepohonan dan berinteraksi dengan pengunjung. Kehadiran mereka bukan pemandangan baru.
Pemantauan kemudian dilakukan sepanjang jalur menuju waduk yang melewati kawasan hutan jati dan permukiman. Pada jalur tersebut, tim tidak menemukan monyet berkeliaran di tengah permukiman sebagaimana gambaran yang kerap muncul ketika konflik manusia dan satwa terjadi.
Situasi yang lebih menarik ditemukan ketika tim bergerak menuju kawasan mangrove yang dikenal masyarakat sebagai hutan kera. Di sepanjang jalur wisata yang berdekatan dengan permukiman, keberadaan monyet telah menjadi bagian dari keseharian warga.
Manusia dan monyet berada dalam ruang yang berdekatan. Berdasarkan pengamatan saat pengecekan, tidak ditemukan interaksi yang mengarah pada gangguan serius. Warga tampak terbiasa dengan keberadaan satwa tersebut, demikian pula monyet yang hidup di sekitarnya.
Temuan ini penting. Dalam penanganan interaksi negatif manusia dan satwa liar, kemunculan satwa tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai konflik. Riwayat keberadaan satwa, perubahan ruang, sumber pakan, perilaku manusia hingga kondisi habitat perlu dibaca sebagai satu kesatuan.
Di sisi lain, tim juga mencatat adanya aktivitas penambangan pasir dan batu pada jalur berbeda di sekitar kawasan hutan jati. Saat pengecekan terlihat lalu-lalang truk pengangkut serta alat berat menuju lokasi penambangan. Temuan tersebut menjadi catatan kondisi lapangan, tetapi masih memerlukan kajian lebih lanjut sebelum dapat dikaitkan dengan perubahan perilaku atau pergerakan monyet di Nepa.
Tim juga berupaya menghubungi nomor pelapor untuk memperoleh informasi lebih rinci mengenai lokasi, waktu dan bentuk gangguan yang dilaporkan. Hingga pengecekan dilakukan, upaya konfirmasi tersebut belum mendapatkan respons.
Respons cepat ini sekaligus menegaskan bahwa penanganan konflik manusia dan satwa liar tidak cukup dilakukan dengan asumsi bahwa satwa yang muncul adalah satwa yang bermasalah. Kadang yang diperlukan bukan segera memindahkan satwanya, tetapi lebih dahulu membaca apa yang sedang berubah di ruang hidupnya.
Di Nepa, Matawali menemukan satu pelajaran sederhana: monyet telah berada di sana jauh sebelum sebuah laporan masuk ke call center. Tantangannya kini adalah memastikan ruang yang telah lama digunakan bersama itu tetap memungkinkan manusia dan satwa liar hidup berdampingan, tanpa salah satu harus menjadi korban dari perubahan yang terjadi di sekelilingnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



